Categories: Headline, Jelajah, Lain-lain, Wisata

kampung nagaJika anda berkunjung ke Garut – Tasikmalaya, disini ada Kampung yang sangat terkenal di Jawa Barat karena kearifan lokalnya. Kampung ini disebut Kampung Naga, kenapa disebut kampung Naga sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hewan mitos Naga tetapi memang nama sebutan saja, Kampung Naga ini terletak di Desa Neglasari Jawa Barat. yang unik letak kampung ini yang berada dilembah, tidak hanya itu Kampung Naga ini ternyata masih mempertahankan Kearifan lokal dan budaya yang mereka jaga sejak dahulu. untuk mencapai Kampung Naga ini dari Garut memakan waktu 1 jaman, letak kampung disebelah kiri jalan. uniknya adalah tata letak rumah dan arsitektur yang khas, sesaat sebelum masuk kampung kita harus melapor terlebih dahulu dan disini tidak ada Plang Desa Wisata.

http://farm8.staticflickr.com/7308/10821340835_51abc2835d.jpg

kampung naga
Suasana Kampung Naga yang hening dan damai

sudah lama saya ingin mengunjungi Kampung Naga ini, karena ternyata Kampung Naga ini bukanlah desa wisata tetapi keaslian kampung ini masih sangat terjaga. dahulu sempat terdengar kabar kalau Kampung Naga ditutup untuk orang luar karena ada mereka tidak mau daerahnya dijadikan objek wisata. setelah banyak mengobrol dengan sesepuh Kampung mereka tidak mau menjadikan Kampung Naga ini menjadi desa Wisata, karena alasannya tidak mau ditonton oleh orang ataupun turis yang datang.


Kampung Naga  di ambil dari atas bukit pada saat menuruni anak tangga.


Mata pencaharian utama masyarakat Kampung Naga adalah bertani, disela kesibukan mereka
membuat kerajinan tangan.

pada saat saya datang ke Kampung Naga ini saya ditanyakan oleh Kang Tatang Guide saya selama di Kampung Naga, ada keperluan apakah saya datang kesini? saya bilang untuk meliput, kang Tatang bertanya lagi. liputan saya tujuannya untuk apa? apakah mempromosikan kampung ini? saya jawab tidak mempromosikan tetapi mengenalkan budaya Kampung Naga ini kepada masyarakat luar. jawaban saya ternyata melegakan Kang Tatang, karena kalau tujuan saya untuk mempromosikan Kampung ini mungkin beliau akan tolak. karena kata Kang Tatang Kampung Naga ini bukan desa Wisata, mereka adalah masyarakat Sunda Biasa yang kebetulan memegang teguh tradisi leluhur dan mereka tidak mengandalkan pendapatan mereka dari Pariwisata dan juga tidak mau dipertontonkan. hmm.. saya bisa menerima dan menghormati Tradisi yang mereka pegang, salut..


yang unik tidak ada jamban atau wc disetiap rumah, semua jamban berada diluar rumah.

Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari, disini masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, setahu saya sampai sekarang, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan.

Kampung ini berada di wilayah Desa Neglasari Jawa Barat. Lokasi Kampung  Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur yang dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di ditembok. nah yang unik banyak orang mencoba menghitung anak tangga ini, dan sampai sekarang jumlah pastinya tidak ada yang tahu. karena tiap tiap orang yang menghitungnya hasilnya selalu berbeda beda.


Rumah di Kampung Naga yang saling berhadapan dan teratur.

Penduduk Kampung Naga semuanya beragama Islam, sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, mereka tetap menjaga warisan budaya leluhurnya. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam. Kemudian “ririwa” yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut “kunti anak” yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi ageung dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari  bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang terwujud pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula. tidak jika Kampung Naga disebut sebagai Kampung yang disebut Kampung Ramah lingkungan dan tetap menjaga tradisi.


Mesjid yang berada ditengah Kampung, disini juga tempat untuk berkumpul dan bermusyarawah.

Kampung Naga ini masuknya desa adat..kalo desa wisata biasanya desa adat yang sudah dibantu pemerintah dll untuk menjadi destinasi wisata, mereka kurang perawatan dan butuh pemeliharaan asset sehingga dijadikan desa wisata..sedangkan kampung Naga mereka memang desa adat tetapi belum menjadi desa wisata dan mereka tidak mau menjadikan desanya desa wisata..

memang untu guidenya harus pakai lokal orang sana, karena yang saya dapat infonya banyak guide yang berasal dari luar yang tidak mengerti tentang larangan dan pantangan yang ada didesa ini..kalau belum pernah mereka memang sangat menyarankan memakai orang lokal, tetapi kalo yang sudah pernah berkali2 mereka bertamu istilahnya..

dari sekian banyak desa Adat dan Wisata yang saya datangi di Indonesia, saya menemukan Kampung Naga yang begitu nyaman dan tenang. disini saya banyak menemukan kearifan lokal dan salut kepada Masyarakat Kampung Naga yang memegang teguh Tradisi leluhur mereka tanpa terkikis oleh jaman. mereka ini adalah masyarakat yang sangat terbuka dengan perubahan jaman, mereka tidak menutup mata dan kolot dalam menyikapi jaman. mereka orang orang yang mempertahankan budaya mereka tanpa harus melawan arus modernisasi yang pesat.

Foto lain :

http://farm6.staticflickr.com/5512/10821499644_0a2994b7d7_o.jpghttp://farm4.staticflickr.com/3781/10821374166_f1313b0726_z.jpg

sumber :

http://www.kaskus.co.id/post/52260612fcca17a37200000c#post52260612fcca17a37200000c

@BarryKusuma

http://www.kaskus.co.id/post/50e0fa7d20d719112900000d#post50e0fa7d20d719112900000d

Camera.co.id Toko kamera murah di Indonesia

5 Responses to “Kampung Naga The Beauty Culture of West Java”
Read them below or add one

  1. saya pernah sekali ke kampung naga,rasanya tenang alam banget

  2. akankah seperti kampung naga,?

  3. wsc biolo says:

    kangen pergi ke desa seperti itu nyaman indah,asri alami

  4. kalau saja jakarta teratur seperti itu,kelihatan indah euy

  5. Terletak sekitar 5 km dari pusat kota Jogja, merupakan kawasan penginapan sejak dulu. Selain banyaknya penginapan yang unik dengan tariff terjangkau, ada juga sederet artshop, café, toko buku, pasar tradisional, dan pabrik pembuatan batik yang bisa menjadi alternatif wisata. Prawirotaman sebagai sebuah kampung dikenal sejak abad ke-19. Seorang bangsawan keraton bernama Prawirotomo menerima hadiah sepetak tanah dari keraton. Kampung ini mempunyai peran yang tak kecil bagi Jogja. Masa pra-kemerdekaan, kampung ini menjadi konsentrasi laskar pejuang. Pada tahun 60-an, kampung ini dikenal sebagai pusat industri batik cap yang dikelola oleh keturunan Prawiotomo. Sejak tahun ’70-an, seiring meredupnya industri batik cap, para keturunan Prawirotomo banting setir ke jasa penginapan. Prawirotaman pun mulai dikenal kampung turist.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.

*

Top